Solusi Asuransi Syariah

Ketika Pak Rahmat meninggal dunia karena mobil yang baru dibelinya bertabrakan, maka yang ‘tertinggal’ bukan hanya sebuah mobil yang rusak berat, melainkan juga seorang janda dengan anak yatim 3 orang. Selain itu 120 bulan beban angsuran rumah bertipe 45 masih tersisa. Tak terbayangkan betapa besar beban keuangan (resiko finansial) yang harus ditanggung oleh janda muda yang selama ini mengandalkan pendapatannya hanya dari penghasilan suami yang pegawai swasta itu. Bagaimana pula dengan masa depan ketiga anak balitanya? Mungkinkah ia tumbuh sehat dan terdidik sebagaimana halnya anak-anak lainnya?

Ia memang bukan kisah nyata, tetapi tidak mustahil bisa dialami oleh siapa saja. Jika demikian halnya, maka bagaimana antisipasinya?

Dari sudut pandang Islam, membantu dan menyantuni mereka yang mengalami musibah merupakan kewajiban. Berbagai ayat Al-Quran mengisyaratkan hal itu, antara lain dalam surat Al-Baqarah ayat 177 dan surat Al-Maa’un ayat 1-7. Semua ini merupakan wujud kepedulian terhadap sesama, sekaligus indikasi ketakwaan kepada Allah SWT. Bukankah Rasulullah SAW telah menyatakan bahwa orang-orang beriman antara satu dengan yang lain adalah bagaikan bangunan yang saling menguatkan, sehingga apabila satu bagian menderita sakit, maka bagian tubuh yang lain akan turut merasakannya.

Selain itu, Allah SWT juga meminta perhatian kita yang sungguh-sungguh untuk tidak meninggalkan generasi yang lemah (QS. An-Nisa: 9), baik akidah, intelektualitas, ekonomi maupun fisiknya.

Persoalannya, bagaimana tuntunan luhur ini dilaksanakan dan dilembagakan, sehingga dapat mencakup khalayak yang lebih banyak, di samping bantuan atau santunan yang diberikan cukup berarti untuk memberdayakan atau memulihkan kondisi keuangan mereka yang ditimpa musibah.

Ada hadits yang bermakna: “Kebenaran yang tidak bersistem akan dikalahkan oleh kebatilan yang sistematis.”

Asuransi

Solusi preventif yang lazim ditawarkan dalam menghadapi persoalan serupa adalah asuransi, yang terdiri dari:

  • Asuransi Umum, yaitu jenis perlindungan yang dikaitkan dengan kerugian atau kerusakan/kehilangan harta benda yang dimiliki seseorang
  • Asuransi Jiwa, yaitu jenis perlindungan yang dikaitkan dengan hidup matinya seseorang. Tiga tipe dasar produk asuransi jiwa, yaitu: term insuransce (asuransi berjangka, manfaat dibayarkan jika mengalami musibah meninggal dalam masa perjanjian), whole life insurance endowment insurance (asuransi dwiguna, manfaat asuransi dibayarkan jika peserta meninggal dalam masa perjanjian atau hidup sampai akhir perjanjian). (asuransi seumur hidup, manfaat asuransi dibayarkan jika peserta meninggal) dan unitlink

Jenis dan tipe asuransi manapun, pada dasarnya bertolak dari asas kerjasama (cooperation) dan saling membantu (mutuality), yang sesungguhnya sejalan dengan prinsip-prinsip Islam. Asas kerjasama dan saling membantu dalam asuransi secara operasional diterjemahkan sebagai perjanjian di antara penanggung (perusahaan asuransi) dan tertanggung (peserta asuransi) dengan penanggung menerima premi dari tertanggung untuk mendapatkan pertanggungan manakala tertanggung mengalami kerugian, kerusakan atau kehilangan disebabkan oleh peristiwa yan tidak pasti dan tanpa kesengajaan; atau penanggung memberikan suatu pembayaran yang didasarkan atas meninggal atau hidupnya seseorang.

Asuransi menurut pola operasional demikian, berdasarkan akadnya dapat dikategorikan sebagai pertukaran (raqad mu’awadhah), layaknya jual beli. Penanggung (perusahaan asuransi) memberikan jaminan atau pertanggungan kepada tertanggung dan untuk itu tertanggung (peserta asuransi) membayar premi. Besar pertangungan dan premi serta masa perjanjian disepakati oleh kedua belah pihak.

Pertukaran dengan cara seperti ini dalam pandangan Islam mengandung cacat berupa ketidakpastian atau gharar, karena disandarkan pada peristiwa yang tidak pasti. Produk dwiguna misalnya, peserta berkewajiban membayar (mengangsur) premi jika peserta hidup selama masa perjanjian untuk mendapatkan uang pertanggungan yang jumlahnya sudah ditentukan. Ketidakpastian dalam contoh ini adalah besarnya premi yang dibayarkan, karena pembayaran premi ini disandarkan pada hidup atau matinya peserta dalam masa perjanjian. Sebaliknya untuk produk asuransi berjangka, ketidakpastian terletak di dalam besarnya pertanggungan yang akan diterima oleh tertanggung.

Selanjutnya, transaksi yang mengandung ketidakpastian semacam ini dapat merugikan salah satu pihak, dimana pada umumnya pihak pesertalah yang paling dirugikan. Pihak peserta atau ahli warisnya dapat menerima uang pertanggungan lebih besar atau lebih kecil dari premi yang dibayarkan atau tidak menerima uang pertanggungan sama sekali. Dengan kata lain berasuransi identik dengan untung-untungan, yang dalam terminologi fikih Islam disebut maysir. Dalam kasus lain, jika peserta berhenti sebelum masa perjanjian berakhir, terutama pada awal periode perjanjian, pada umumnya peserta tidak mendapatkan pengembalian premi yang telah dibayarnya (hangus), atau mendapatkan pengembalian dalam jumlah yag sangat kecil dibandingkan dengan premi yang telah dibayarnya. Sebagian besar dana premi yang diterima perusahaan kemudian diinvestasikan. Dalam kaitan ini, akad pertukaran tidak mensyaratkan kejelasan dalam alokasi dana premi, karena dana premi yang telah dibayarkan oleh pesera, berstatus milik perusahaan.

Dengan demikian perusahaan dapat menginvestasikan dana premi itu kemana saja dan dengan cara apapun, termasuk di bidang-bidang usaha yang mengandung unsur maksiat atau dilarang oleh syariat (riba, minuman keras, pornografi, dll). Jika dana premi dan hasil investasinya menjadi sumber uang pertanggungan, maka peserta yang menerima uang pertanggungan itu tidak bisa menghindarkan diri dari mengkomsumsi dana ribawi ataupun dana yang bersumber dari usaha maksiat lainnya.

Asuransi Syariah

Ajaran Islam yang mulia memerintahkan kita untuk menyantuni orang yang kehilangan harta benda, kematian kerabat, maupun musibah lainnya. Tindakan tersebut merupakan wujud kepedulian dan solidaritas (itsar), serta tolong-menolong (ta’awun) antar warga masyarakat, baik muslim maupun non-muslim. Dengan cara demikian rasa persaudaraan (ukhuwah) akan semakin kokoh. Mereka yang ditimpa musibah tidak dirundung kesedihan yang berlarut-larut dan tidak terjerembab dalam keputusasaan, bahkan terhindar dari kemungkinan terpuruk dalam kemiskinan atau kehilangan masa depan. Akan tetapi cara-cara penyantunan itupun harus sejalan dengan syariat (QS 42: 13). Tidak boleh mengandung unsur gharar (ketidakpastian), maysir (untung-untungan), riba, dan hal-hal lain yang bersifat maksiat. Denga kata lain, ta’awun harus diletakkan di atas nilai-nilai ketakwaan untuk kebajikan, dan bukan pelanggaran hukum syariah yang dapat menimbulkan pertentangan atau permusuhan. Hal ini sebagaimana perintah Allah dalam surat Al-Maidah:2 : ” Saling tolong menolonglah kalian dalam kebajikan dan takwa, dan jangan kalian saling tolong-menolong dalam dosa dan permusuhan”

Asuransi syariah merupakan sistem alternatif, tepatnya pengganti, atas pola asuransi konvensional yang menerapkan sistem atau akad pertukaran yang tidak sejalan dengan syariat Islam. Pada sistem asuransi syariah, setiap peserta bermaksud tolong-menolong satu sama lain dengan menyisihkan sebagian dananya sebagai iuran kebajikan (tabarru’). Dana inilah yang digunakan untuk menyantuni siapapun diantara peserta asuransi yang mengalami musibah. Jadi bukan dalam bentuk akad pertukaran diantara dua pihak, melainkan akad untuk saling tolong-menolong (takaafuli) di antara semua peserta.

Seluruh dana premi yang terhimpun dikelola oleh perusahaan untuk investasi, re-asuransi, penyaluran manfaat asuransi, dan distribusi surplus operasi. Untuk semua jasa pengelolaan ini, perusahaan meminta kontribusi peserta yang jumlahnya pasti dan disetujui oleh peserta, serta bagian dari surplus operasi sesuai kesepakatan perusahaan dengan peserta yang prosentase nisbahnya ditetapkan sejak awal.

Solidaritas, Transparansi, dan Konsistensi

Fenomena asuransi syariah adalah fenomena yang unik (al-ghuraba) di tengah arus ekonomi yang kapitalistik dan individualistik. Secara finansial, sistem asuransi syariah memungkinkan perolehan (manfaat) yang lebih baik. Bersamaan dengan itu, semangat solidaritas pun dipupuk melalui iuran kebajikan (tabarru’) peserta asuransi.

Sistem tabarru’ dan bagi hasil (mudharabah) yang ditetapkan dalam pola operasional asuransi syariah mengharuskan adanya transparansi di dalam status dana dan pengelolaannya. Demikian pula dalam hal kontribusi biaya pengelolaan, yang disisihkan sedikit dari premi tahun pertama saja, ditetapkan dengan jelas dan menjadi bagian dari kesepakatan peserta. Oleh karena itu sejak awal peserta mengetahui dengan jelas komponen premi yang disetorkannya, yaitu tabarru’ (iuran kabajikan), tabungan (hak mutlak peserta), dan kontribusi biaya pengelolaan (30% premi tahun pertama). Selain itu, peserta dapat melihat perkembangan dari waktu ke waktu perkembangan nilai tunai polisnya, yakni akumulasi tabungan dan bagi hasilnya. Oleh karenanya ketika peserta bermaksud mengundurkan diri dalam masa perjanjian karena sesuatu hal, nilai tunai yang dapat diterimanya dapat dihitung nilainya dan jelas sumbernya (berasal dari tabungan dan bagi hasilnya). Demikian pula halnya klaim meninggal yang diterima oleh ahli waris peserta, terdiri dari manfaat asuransi atau santunan kebajikan (bersumber dari tabarru- tabarru’ peserta), tabungan yang sudah disetorkan dan bagi hasil tabungannya itu.

Dalam hal investasi, selain pertimbangan profitabilitas, kesesuaian usaha dengan ketentuan syariah merupakan faktor penentu keputusan investasi. Oleh karena itu peran Dewan Pengawas Syariah menjadi sangat penting di dalam dinamika pengembangan usaha asuransi syariah, hal yang tidak ditemukan di dalam asuransi konvensional.

Akhirnya, tidak keliru jika dikatakan bahwa operasionalisasi asuransi syariah seperti diuraikan di atas dan keterlibatan Dewan Pengawas Syariah di dalam keseluruhan mata rantai aktivitas dan produk asuransi syariah menggambarkan konsistensi asuransi syariah sebagai sebuah sistem ta’awun (kerjasama tolong-menolong) yang berpijak pada nilai-nilai syariah Islam.

Advertisements

Asuransi Syariah membangun Bangsa Indonesia

Beberapa waktu yang lalu (tahun 2006 -red), saya jumpa Aa Gym (KH Abdullah Gymnastiar) pada peresmian sebuah produk unit link syari’ah. Sebagai sahabat lama, di sela-sela acara kami sedikit nostalgia ke masa lalu.

Kira-kira enam belas tahun lalu, Beliau sebagai mahasiswa Unjani mendirikan Pesantren Darut Tauhid di Geger Kalong Bandung, dekat Kampus IKIP. Pada saat bersamaan, saya dan beberapa teman-teman dari mahasiswa Unpad, ITB dan IAIN Bandung, mendirikan Pesantren Mahasiswa Fi Zhilal al-Quran di Jatinangor Bandung, di tengah-tengah kampus Unpad, STPDN, Ikopin, dan Unwim.

Darut Tauhid kini menjadi salah satu ‘pelita’ yang mampu memberi cahaya pencerahan bagi bangsa, khususnya dalam memperbaiki akhlak anak bangsa. Aa Gym telah menjadi guru akhlak bangsa melalui tema ceramahnya yang sederhana sehingga tak perlu mengerutkan kening untuk memahaminya. Ia terus menyuarakan qalbu (hati) yang bersih.

Saya teringat kata-kata Beliau belasan tahun yang lalu. “Soklah bagi tugas, antum ngurusmah mahasiswa, saya ngurus orang kecil aja, pesantren ini saya mau jadikan bengkel akhlaknya kaum dhuafa.” Segmen dakwah Aa Gym semula memang kaum dhuafa, anak broken home, dan pedagang asongan. Tapi kemudian dapat diterima di semua lapisan masyarakat.

Pada peresmian produk unit link syariah itu, beliau melontarkan gagasan baru. “Kita harus jadi bangsa visioner,” katanya. Menyisihkan dana secara teratur di usia produktif, sebagai simpanan hari tua, adalah contoh bangsa yang visioner. Umat perlu banyak menabung untuk menghadapi masa sulit, sebagai antisipasi andai musibah datang menimpa. Selain itu, bisa jadi persiapan kalau-kalau ada keperluan mendesak yang butuh dana besar, seperti ketika anak-anak secara serempak masuk sekolah.

Di sinilah pentingnya asuransi syariah. Kita perlu mencontoh Malaysia yang 60 persen penduduknya sudah sadar menabung. Sementara penduduk Indonesia belum mencapai 10 persen yang sadar tabungan. Asuransi syariah sudah menjadi konsep global. Hampir 200 (dua ratus) perusahaan asuransi di dunia menggunakan konsep ini. Tanpa kecuali negara-negara non-Muslim.

Di Indonesia sendiri sudah sekitar 35 (tiga puluh lima) perusahaan asuransi menggunakan konsep syariah. Tiga dalam bentuk perusahaan penuh, selebihnya dalam bentuk divisi atau cabang syariah.Market share-nya memang masih kecil, kurang dari 2 persen, tapi saya yakin beberapa tahun ke depan akan meningkat signifikan.

Berasuransi secara syariah berarti membuat perencanaan menghadapi masa depan berdasarkan prinsip-prinsip syariah. Karena itu, benar kata Aa Gym, menggalakkan masyarakat masuk asuransi syariah, sama dengan menggalakkan bangsa ini menjadi bangsa yang visioner.

Allah SWT memerintahkan kita agar senantiasa membuat perencanaan masa depan. Islam mengakui bahwa kecelakaan, kemalangan, bencana, dan kematian merupakan qadha dan qadar. dari Allah. Hal ini tidak dapat dipungkiri. Tapi perencanaan masa depan tetap harus dipersiapkan.

Allah berfirman, ” Hai orang-orang yang beriman, bertakwalah kepada Allah dan hendaklah setiap hari memperhatikan apa yang telah diperbuat untuk hari esok (masa depan). Dan, bertakwalah kamu kepada Allah, sesungguhnya Allah Maha mengetahui apa yang engkau kerjakan.” (Al Hasyr:18).

Ayat ini memerintahkan kita untuk mempersiapkan diri, melakukan ikhtiar antara lain dengan menyisihkan sebagian harta yang kita miliki melalui asuransi syariah bersama dengan saudara-saudara kita yang lainnya. Sehingga, jika takdir ‘menjemput’ kita, maka persiapan-persiapan untuk keluarga yang kita tinggalkan dalam batas tertentu sudah tersedia. Dengan demikian, kita tidak meninggalkan keluarga yang sengsara, terutama bagi sang ayah sebagai tulang punggung ekonomi keluarga.

Oleh karena itu, Allah swt memerintahkan kepada umat Islam agar tidak meninggalkan keturunan yang lemah, yang menjadi beban orang lain sepeninggalnya. Kita perlu perencanaan yang matang dalam mempersiapakan hari depan, dan jadilah bangsa yang visioner.

Allah berfirman, “Dan hendaklah takut kepada Allah orang-orang yang seandainya meninggalkan di belakang mereka anak-anak yang lemah, yang mereka khawatirkan terhadap kesejahteraan mereka. Oleh sebab itu, hendaklah mereka bertakwa kepada Allah dan hendaklah mereka mengucapkan perkataan yang benar.”

Penulis:
Muhammad Syakir Sula
– Wakil Ketua Umum IAEI (Ikatan Ahli Ekonomi Islam)
– Sekjen MES (Masyarakat Ekonomi Syariah)

(Sumber: Harian Republika)

Membedah cara kerja Asuransi Unitlink

Berbeda dengan asuransi termlife yang murni asuransi tanpa investasi sepeserpun, maka asuransi unitlink adalah asuransi yang menggabungkan antara asuransi dan investasi

Contoh
Pria 31tahun berencana untuk mengambil asuransi di Allianz untuk perlindungan jiwa 500juta, sakit kritis 250juta dan kecelakaan (ADDB) 200juta dengan premi 500ribu sebulan selama 10tahun

1. Biaya Administrasi bulanan
Besarnya: Rp. 26.500/bulan

2. Biaya Akuisisi selama 5 tahun awal besarnya sebagai berikut:
Tahun I : 75%
Tahun II : 40%
Tahun III: 15%
Tahun IV : 7.5%
Tahun V : 7.5%
Biaya Akuisisi adalah biaya yang dikeluarkan oleh perusahaan asuransi untuk biaya pemeliharaan polis. Apabila nasabah menutup asuransi pada 2tahun awal, maka nilai tunainya akan sedikit karena biaya akuisisi terbesar ada pada 2tahun awal

3. Biaya Asuransi
Biaya Asuransi adalah biaya yang harus dibayarkan tiap pertanggungan tertentu baik untuk biaya pertanggungan jiwa, sakit kritis, kecelakaan dll

Dapat dilihat pada tabel bahwa biaya asuransi untuk pertanggungan jiwa adalah 73.500, kecelakaan (ADDB) 22.500, sakit kritis (CI Plus) 26.458. Makin tua seseorang maka biaya asuransi ini akan makin mahal

Proteksi yang didapatkan:

Cover 49 Penyakit Kritis sebesar 250juta
Manfaat kecelakaan (ADDB) sebesar 200juta
Manfaat Meninggal sebesar 500juta

Manfaat Nilai Tunai (Investasi)

Selama investasi yang terbentuk masih ada maka nilai investasi ini dapat diambil sewaktu-waktu apabila ada keperluan
Nilai tunai ini tidak dijamin, bisa naik atau turun sesuai dengan kondisi naik turunnya perkembangan investasi